Ter­cipta dari pen­gala­man per­dana Ban­ga­lore di India lalu dise­bar­lu­askan ke beber­apa Negara seperti Fil­ip­ina, Viet­nam, Ukraina, Tajik­istan, Ethiopia dan Tan­za­nia, Cit­i­zen Report Card (CRC)  adalah alat prak­tek ter­baik secara inter­na­sional guna meningkatkan pem­ber­ian pelayanan. CRC mengumpulkan umpan balik melalui con­toh survei ter­hadap aspek-aspek kual­i­tas pelayanan yang pal­ing dike­tahui oleh pemakai, serta memam­pukan agen-agen pub­lik agar dapat mengi­den­ti­fikasi keku­atan maupun kelema­han dalam peker­jaan mereka.  CRC berisikan survei yang acak ter­hadap pemakai jasa pub­lik, serta kumpu­lan pen­gala­man para pemakai guna dasar pemer­ingkatan jasa-jasa terse­but. CRC mem­fasil­i­tasi pri­or­i­tas refor­masi dan tindakan-tindakan koreksi den­gan men­gal­i­hakan per­ha­t­ian pada masalah-masalah yang diungkap. Den­gan cara mengumpulkan umpan balik dari warga ten­tang kual­i­tas dan kecuku­pan jasa pub­lik dari pemakai yang sesung­guh­nya, maka CRC mem­berikan dasar yang tepat serta agenda yang proak­tif kepada masyarakat dan pemer­in­tah daerah agar dapat melakukan dia­log guna mem­per­baiki pem­ber­ian layanan umum.

Isti­lah “Kartu Rapor” muncul dari kartu rapor pro­gres seko­lah yang diter­ima para murid. Kartu pro­gres seko­lah yang seder­daha menun­jukkan bagaimana kin­erja murid untuk suatu pela­jaran ter­tentu maupun kin­erja dan per­ingkat (posisi) murid terse­but secara keselu­ruhan dalam kelas. Seba­gai con­toh, lihat­lah kartu rapor seko­lah dari Arti yaitu seba­gai berikut:

rapor6Kartu rapor  yang seder­hana ini mem­berikan beber­apa infor­masi berharga men­ge­nai Arti:

  1. Dia san­gat bagus dalam hal bahasa
  2. Ia perlu meningkatkan kemam­puan­nya lebih banyak lagi dalam hal Matem­atika dan Ilmu Pasti
  3. Nilai keselu­ruhan­nya dan per­ingkat­nya di kelas menun­jukkan bahwa ia adalah murid yang rata-rata
  4. Den­gan dike­tahuinya nilai-nilai tert­inggi dan mem­band­ingkan­nya den­gan nilainya, kini Arti dapat menge­tahui keku­atan serta kelemahannya
  5. Den­gan adanya data yang obyek­tif  dan berguna ini, Arti kini dapat meren­canakan cara meningkatkan nilai serta peringkatnya

Kartu Rapor  Warga (Cit­i­zen Report CardCRC) meng­gu­nakan konsep-konsep “uku­ran” serta “per­bandin­gan” yang sama  seperti yang digu­nakan dalam kartu rapor progress seko­lah. Den­gan meng­gu­nakan umpan balik dari pemakai, maka CRC dapat men­gukur dan memer­ingkat kin­erja agen pelayanan pub­lik. Metodologi CRC menggam­barkan tujuan-tujuan seba­gai berikut:

  • Mengumpulkan umpan balik dari warga/penduduk men­ge­nai tingkat kepuasan ter­hadap layanan yang dise­di­akan oleh berba­gai agen pelayanan pub­lik dan juga menye­di­akan esti­masi yang ter­per­caya atas korupsi dan biaya-biaya terselubung lainnya
  • Melakukan katal­isasi warga dan organ­isasi masyarakat sipil untuk menun­tut lebih ter­hadap akunt­abil­i­tas, akses dan ketang­ga­pan dari penye­dia layanan
  • Seba­gai alat diag­nos­tic bagi penye­dia layanan, kon­sul­tan ekster­nal dan analis/pelaku riset untuk mem­fasil­i­tasi prog­nosa dan solusi yang efektif
  • Men­dorong agen-agen pub­lik untuk men­er­ap­kan dan melakukan pro­mosi ter­hadap praktek-praktek yang memu­dahkan warga, mem­buat stan­dar kin­erja dan mem­fasil­i­tasi transparansi dalam operasionalnya.

Dalam ter­min yang lebih prak­tis, Kartu Rapor Warga (Cit­i­zen Report Cards) mem­berikan masukan-masukan strate­gis  seba­gai berikut:

  1. Menye­di­akan stan­dard uku­ran ter­hadap akses, kecuku­pan dan kual­i­tas pelayanan pub­lik seba­gaimana dirasakan oleh warga: Kartu Rapor Warga menggam­barkan jauh melebihi masalah-masalah khusus yang dihadapi oleh warga dan men­em­patkan setiap masalah ke dalam per­spek­tif ele­men penyam­pa­ian dan desain layanan lain­nya,  maupun juga seba­gai per­bandin­gan den­gan layanan lain­nya, sehingga dapat mem­buat suatu paket strategi tindakan.
  2. Menye­di­akan uku­ran dari­pada tingkat kepuasan warga untuk mem­pri­or­i­taskan tindakan-tindakan korek­tif: Kartu Rapor Warga men­cu­p­lik umpan balik dari warga secara seder­hana dan jelas yaitu den­gan cara men­gungkap­kan tingkat kepuasan atau keti­dakpuasan. Bila uku­ran kepuasan atau keti­dakpuasan warga ini dipan­dang dari per­spek­tif pem­bandin­gan, maka diper­oleh infor­masi yang san­gat berharga guna mem­pri­or­i­taskan tindakan-tindakan korek­tif. Seba­gai con­toh, umpan balik yang pal­ing men­dasar yang diberikan warga men­ge­nai suplai tenaga listrik adalah keti­dakpuasan yang total.. Untuk meng­har­gai umpan balik ini, maka harus­lah dikaitkan den­gat per­ingkat yang diberikan ter­hadap layanan-layanan lain­nya oleh orang yang sama. Seba­gai con­toh, suplai air bersih dapat saja dier­p­ingkat seba­gai lebih buruk diband­ingkan den­gan suplai tenaga listrik. Apa­bila kedua hal ini diband­ingkan, tidak ada yang dapat meny­im­pulkan bahwa suplai tenaga listrik lah yang men­jadi penye­bab keti­dakpuasan itu, namun pri­or­i­tas tin­dakan korek­tif ter­da­pat pada suplai air bersih.
  3. Menye­di­akan indika­tor ter­hadap per­masala­han yang ada dalam penyam­pa­ian layanan pub­lik: Kartu Rapor Warga memer­lukan adanya aspek-aspek ter­tentu emn­ge­nai inter­aksi antara agen layanan dan warga, dan mengi­den­ti­fikasi hal-hal yang men­jadi pen­gala­man warga dalam meng­hadapi layanan-layanan terse­but. Dalam ungka­pan yang lebih seder­hana, Kartu Rapor Warga menggam­barkan bahwa keti­dakpuasan ada penye­bab­nya, yang dapat berkai­tan den­gan kual­i­tas layanan yang dinikmati oleh warga (seperti kehan­dalan suplai tenaga listrik, atai keterse­di­aan obat-obatan di rumah sakit umum); kesulitan-kesulitan yang dite­mui pada saat beru­ru­san den­gan agen-agen layanan untuk masalah-masalah yang berkai­tan den­gan hal-hal layanan den­gan agen-agen layanan seperti tag­i­han yang berlebi­han atau keluhan-keluhan atas gagal­nya suplai tenaga listrik/mati listrik.
  4. Menye­di­akan esti­masi yang dapat dian­dalkan ter­hadap korupsi serta biaya-biaya terselubung lain­nya: Korupsi, walaupun terse­bar luas dan tak terk­endali, ser­ingkali ada dalam khasanah anek­dot tanpa dasar kuan­ti­taif sama sekali. “Sub­jek­ti­fi­tas’ ter­hadap korupsi ini telah san­gat merusak tanggapan-tanggapan korek­tif maupun kolek­tif. CRC mem­berikan infor­masi yang san­gat obyek­tif ter­hadap sifat dan penye­bar­lu­asan korupsi serta biaya-biaya terselubung lainnya.
  5. Menye­di­akan mekanisme untuk men­ja­jaki berba­gai alter­natif warga guna mem­per­baiki layanan pub­lik: Kartu Rapor Warga emnggam­barkan jauh melebihi umpan balik ter­hadap situ­asi dari para warga. Kartu juga meru­pakan alat guna melakukan tes ter­hadap beber­apa opsi yang ingin dilakukan oleh warga, baik secara indi­vidu maupun kelom­pok, untuk menan­gani berba­gai per­masala­han. Seba­gai con­toh, Kartu Rapor Warga dapat menye­di­akan infor­masi apakah warga mau mem­ba­yar lebih untuk kual­i­tas layanan yang lebih baik atau men­jadi bagian dari badan yang diben­tuk oleh warga yang bertang­gung jawab atas pen­gelo­laan pem­ber­si­han sam­pah di kawasannya.
Hubungi Kami
Jika anda punya per­tanyaan atau saran ten­tang CRC Method­ol­ogy, baik itu ten­tang imple­men­tasinya maupun masalah-masalah lain, silahkan kir­imkan per­tanyaan anda kepada kami. Silahkan KLIK DI SINI untuk mengisi form kontak
Indonesian CRC Member